Pages

Rabu, 03 Oktober 2012

JENIS-JENIS KESULITAN BELAJAR


1.      Kesulitan Belajar Umum
Anak berkesulitan belajar umum secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologi dasar maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajarnya rendah dan anak tersebut berisiko tinggi tinggal kelas.
Anak berkesulitan belajar tidak sama dengan anak tunagrahita. Anak berkesulitan belajar umum biasanya ditandai dengan prestasi belajar yang rendah untuk hampir semua mata pelajaran atau nilai rata-rata jauh di bawah rata-rata kelas sehingga mempunyai risiko cukup tinggi untuk tinggal kelas. Kesulitan belajar tersebut disebabkan karena IQ yang rendah. Pada umumnya nak yang mengalami kesulitan belajar karena mempunyai inteligensi di bawah rata-rata yakni dengan IQ antara 70-90. Mereka sulit untuk menangkap pelajarn dan umumnya bersekolah di sekolah-sekolah umum.

Anak berkesulitan belajar kemungkinan juga mengalami gangguan fisik, sosial dan mental yang ringan sehingga cukup mengganggu mereka dalam menangkap pelajaran. Anak yang mengalami gangguan penglihatan jauh akan merasa kesulitan jika ditempatkan di tempat duduk paling belakang, demikian juga dengan anak yang mengalami gangguan pendengaran ringan. Anak yang memilki inteligensi di bawah rata-rata (slow learner) memerlukan penjelasan dengan menggunakan berbagai metode dan berulang-ualang agar mereka dapat memahami pelajaran dengan baik. Anak yang mengalami gangguan tingkah laku memerlukan perhatian yang cukup terhadap persoalan sosial yang dihadapinya agar dapat mengonsentrasikan diri pada pelajaran.
2.      Kesulitan Belajar Khusus
Kesulitan belajar khusus dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu kesulitan belajar praakademik dan kesulitan belajar akademik.



a.       Kesulitan Belajar Praakademik

1)      Gangguan Motorik dan Persepsi
Gangguan perkembangan motorik disebut dispraksia, mencakup gangguan pada motorik kasar, penghayatan tubuh, dan motorik halus. Gangguan persepsi mencakup persepsi penglihatan atau persepsi visual,persepsi pendengaran atau aoditoris, persepsi heptik (raba dan gerak atau tatkil dan kinestik), dan inteligensi sistem persepsual.
Dispraksia atau sering disebut clumsy adalah keadaan sebagai akibat adanya gangguan dalam inteligensi auditori-motor. Anak tidak mampu menggerakkan anggota tubuh dengan benar walaupun tidak ada kelumpuhan anggota tubuh. Ada beberapa jenis dispraksia, antara lain ;
a)      Dispraksia ideomotoris, ditandai dengan kurangnya kemampuan dalam melakukan gerakan sederhana sperti ; menggunting, menggosok gigi, atau menggunakan sendok makan.Gerakannya terkesan canggung dan kurang luwes.
b)      Dispraksia ideosional, ditandai anak dapat melakukan gerakan kompleks tetapi tidak mampu menyelesaikan secara keseluruhan terutama dalam kondisi lingkungan yang tidak tenang. Kesulitannya terletak pada urutan-urutan gerakan, anak sering bingung mengawali suatu aktivitas, misalnya mengikuti irama musik.
c)      Dispraksia konstruksional, ditemukan pada anak yang mengalami kesulitan melakukan gerakan kompleks yang berkaitan dengan bentuk, seperti menyusun balok dan menggambar. Hal ini disebabakan karena kegagalan dalam konsep visiokonstruktif.
2)      Kesulitan Belajar Kognitif
Pengertian kognitif mencakup berbagai aspek struktur intelektual yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Kognitif merupakan fungsi mental yang mencaku persepsi, pikiran, simbolisasi, penalaran, dan pemecahan masalah. Perwujudan fungsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak menggunakan bahasa dan menyelesaikan soal-soal berhitung.
3)      Gangguan Perkembangan Bahasa  (Disfasia)
Disfasia adalah ketidakmampuan anak menggunakan simbol linguistik dalam berkomunikasi secara verbal. Gangguan pada anakyang terjadi pada fase perkembangan ketika anak belajar berbicara disebut disfasia perkembangan (developmental dysphasia).
Disfasia ada dua jenis, yaitu disfasiareseptif dan disfasia ekspresif. Pada disfasia reseptif anak mengalami gangguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak dapat mendengar kata- kata yang diucapakan, tetapi tidak mengerti apa yang didengar karena mengalami gangguan dalam peroses stimulus yang masuk. Pada disfasia eksperesif, anak itdak mengalami gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata secara variabel. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak akan berdampak kemampuan membaca dan menulis.
4)      Kesulitan dalam Penyelesaian Perilaku Sosial
Ada anak yang perilakunya tidak dapat diterima oleh lingkungan sosialnya, baik oleh sesama anak, guru, maupun orang tau. Ia ditolak oleh lingkungan sosialnya karna sering mengganggu, tidak sopan, tidak tahu aturan, atau berbagai perilaku lainnya. Jika kesulitan penyusuaian perilaku sosial ini tidak secepatnya ditngani maka tidah hanya menimbulakan kerugian bagi anak itu sendiri, tetapi juga bagi lingkungannya.

b.      Kesulitan Belajar Akademik
            Meskipun sekolah mengajarkan  berbagai mata pelajaran atau bidang studi, namun klasifikasi  kesulitan belajar akademik tidak dikaitkan dengan semua mata pelajaran atau bidang studi tersebut. Berbagai literatur yang mengkaji kesulitan belajar hanya menyebutkan tiga jenis kesulitan belajar akademik  sebagai berikut:
·         Kesulitan belajar membaca,
·         Kesulitan belajar menulis, dan
·         Kesulitan belajar berhitung atau matematika.

1)      Kesulitan Belajar Membaca (Disleksia)
      Kesulitan belajar membaca sering disebut disleksia. Kesulitan belajar membaca yang berat dinamakan aleksia. Kemampuan membaca tidak hanya merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berprestasi dalam kehidupan masyarakat  secara bersama.
Ada dua jenis pelajaran membaca, yaitu membaca permulaan atau membaca lisan  dan membaca pemahaman. Mengingat pentingnya kemampuan membaca bagi kehidupan, kesulitan belajar membaca hendaknya ditangani sedini mungkin.
      Ada dua tipe disleksia, yaitu disleksia auditoris dan disleksia visual. Gejala-gejala disleksia auditoris   adalah sebagai berikut:
a)      Kesulitan dalam diskriminasi auditoris  dan persepsi sehingga mengalami kesulitan dalam analisis fonetik, contohnya anak tidak dapat membedakan kata ’ kakak, katak, kapak’;
b)      Kesulitan analisis dan sintesis auditoris, contohnya ‘ibu tidak dapat diuraikan ‘i-bu’ atau problem sintesa ‘p-i-ta’ menjadi ‘pita’. Gangguan ini dapat menyebabkan kesulitan membaca dan mengeja;
c)      Kesulitan auditoris bunyi atau kata. Jika di beri huruf tidak dapat mengingat bunyi huruf atau kata tersebut, atau klau melihat kata tidak dan mengingatkannya walaupun mengerti arti kata tersebut;
d)     Membaca dalam hati lebih baik dari pada membaca lisan;
e)      Kadang-kadang disertai gangguan urutan auditoris;
f)       Anak cenderung melakuan aktivitas visual.

2)      Kesulitan Belajar Menulis  (Disgrafia)
      Kesulitan belajar menulis disebut jaga disgrafia. Kesulitan belajar menulis yang berat disebut agrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu menulis permulaan, mengeja atau dekte, dan menulis ekspresif. Kegunaan kemampuan menulis bagi seorang siswa adalah untuk menyalin, mencatat,dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Oleh karena itu,kesulitan belajar menulis hendaknya didekteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari  berbagai mata pelajaran yang diajarakn di sekolah.

3)      Kesulitan Belajar Berhitung (Diskalkulia)
      Kesulitan belajar berhitung disebut juga diskalkulia. Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut akalkulia. Ada tiga elemenbelajar berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen tersebut adalah  konsep, komputasi,dan pemecahan masalah. Seperti halnya bahasa, berhitung merupakan bagian dari matematika yang merupakan sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, kesulitan belajar bahasa,kesulitan berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran lain disekolah.

* Semoga Bermanfaat, Tulisan Terkait BK-Belajar Tentang Kesulitan Belajar, Faktor Kesulitan Belajar, Cara Mengatasi Kesulitan Belajar

0 komentar:

Poskan Komentar